JOGEAT

JOGJA EATING-EATING

JOGEAT

JOGJA EATING-EATING

  • Home
  • Social
  • Rubrik
    • Viral/Tren
    • Rekomendasi
    • Food
    • Tips
    • Unik
    • Bisnis
  • Contact Us

Oleh: Ade Yaning Crislynn Saraswati

Yogyakarta – Kalau kata Joko Pinurbo, Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Gak heran sih, karena setiap kita berjalan di sepanjang sisi jalan kota Jogja, bukanlah hal yang sulit untuk menemukan tenda angkringan yang selalu siap sedia menyajikan berbungkus-bungkus nasi kucing beserta lauk pauknya yang menggugah selera. Sebungkus nasi kucing cukup untuk mengganjal lapar di perut. Kalau masih kurang, nambah lagi sebungkus dua bungkus sudah bisa dijadikan porsi makan yang pas. Nah Jogeaters, di dekat jembatan Sayidan Yogyakarta, ada satu warung angkringan yang recommended banget nih untuk dijadikan tempat singgah selagi memenuhi kebutuhan perut. Angkringan ini bisa Jogeaters temui di depan Gereja Katolik Santo Yusuf, Jl. Bintaran Tengah, Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Karena posisinya yang berseberangan dengan gereja, orang-orang biasa menyebut angkringan ini dengan sebutan “Angkringan Gereja”. Lokasi tempat angkringan gereja berjualan bisa dibilang berada di lingkungan mahasiswa, sebab di daerah Bintaran ini dikelilingi oleh asrama mahasiswa dari berbagai daerah, seperti asrama putri Sumatera Barat dan asrama putra Riau. Tentunya, selain berada di lingkungan mahasiswa, harganya yang murah juga menjadikan angkringan gereja ini sebagai tempat makan langganan warga sekitar, terutama para mahasiswa yang tinggal di asrama. Tak jarang mereka juga mengajak temannya untuk membeli nasi kucing di angkringan tersebut. 

Nasi Sambal Teri

Seperti angkringan pada umumnya, angkringan gereja menyediakan dua jenis nasi kucing yaitu ada nasi sambal teri dan nasi oseng tempe. Tapi jangan salah, sambal teri buatan ibuk penjual angkringan gereja ini punya rasa yang berbeda dari nasi sambal teri di tempat lain. Saat memakan nasi dicampur sambal teri, sambalnya terasa seperti sambal buatan simbah dari jaman dulu, unik dan khas sekali dari Jogja. Untuk nasi kucing harganya adalah Rp. 2.500 per bungkus. Disini juga menyediakan banyak macam lauk pauk yang tidak kalah enaknya. Ada gorengan seperti mendoan dan bakwan yang bisa Jogeaters nikmati cukup dengan harga Rp. 1.000 setiap satu gorengan. Ada juga sate-satean, mulai dari sate usus, sate ati, sate bakso dan sate telur puyuh yang per tusuknya diberi harga Rp. 2.500. Selain gorengan dan sesatean, masih banyak juga lauk pauk lain kesukaan pelanggan dengan harga yang cukup terjangkau. Sedangkan untuk minumannya, Jogeaters bisa memilih minuman sesuai yang kalian suka mulai dari susu jahe, teh, es jeruk, kopi. 

Angkringan gereja membuka lapaknya di depan sebuah rumah dengan halaman depan yang cukup lapang. halaman tersebut digelari banyak tikar sehingga dapat digunakan sebagai tempat lesehan oleh para pembeli bagi yang mau makan di tempat. Meskipun berada di tengah kota, namun suasana di sekitar daerah Bintaran ini cukup tenang dan terkesan nyaman. Seringkali, para pelanggan yang makan di angkringan ini betah-betah saja duduk berlama-lama sembari mengobrol dengan lawan bicaranya, seolah angkringan gereja ini menjadi tempat orang-orang untuk bersantai sejenak setelah menjalani hari yang cukup melelahkan. 


Makanya, angkringan gereja bisa menjadi tempat makan yang cocok juga untuk nongkrong santai. Salah seorang mahasiswa yang tinggal di asrama putri Sumatera Barat juga mengaku sering ngumpul bareng teman asramanya di angkringan ini, “aku sama anak asrama kalo lagi pengen cerita-cerita pasti ngajaknya kesini”. Angkringan gereja di Bintaran ini mulai menjualkan dagangannya dari jam 15.00 WIB. Biasanya, sekitar jam delapan malam keatas penjualnya sudah membereskan warungnya karena nasi kucing disini cepat sekali ludes dibeli pelanggan. So, gimana nih Jogeaters, tertarik mampir ke angkringan gereja ini?


Yogyakarta - Hai Jogeaters, salam sehat! Siapa disini yang nggak tau dimsum? Dimsum merupakan makanan khas tradisional China yang populer dan menjadi salah satu makanan yang banyak digemari orang-orang termasuk masyarakat Indonesia (Hadi, 2022). Makanan pendamping yang awalnya hanya dapat dinikmati oleh raja di China sejak tahun 206 sebelum masehi (SM) kini dimsum dapat dinikmati oleh semua kalangan dari berbagai negara (Okezone, 2022). 

Dimsum kekinian dengan berbagai ragamnya dan rasanya kini dengan mudahnya dapat kita temukan di berbagai restoran dan juga street food, salah satunya di street food Klebengan Yogyakarta. Restoran dan street food kini banyak yang menyediakan dimsum yang halal, jadi Jogeaters tak perlu khawatir jika ingin makan dimsum. Dan sebagai pecinta dimsum tentunya tidak bisa melewatkan makanan yang satu ini ketika berkunjung ke street food. 

Beragamnya dimsum yang kurang lebih mencapai 1000 macam, kini Jogeaters dapat temukan di restoran dan street food yang ada di Indonesia. “Jenis Dimsum yang kami jual ada sekitar 24 macam, tapi itu tidak semuanya dimsum. Ada jenis dimsum korea dan suki juga makanan jepang dengan harga mulai Rp 1.000 sampai Rp 4.000. Untuk jenis yang paling laris masih siomay tapi semua jenis dimsum disini punya penggemar sendiri-sendiri” (Kata Penjual Dimsumsewu.id). Berikut ragam dimsum yang populer di Indonesia dan Jogeaters dapat temukan di Street food Klebengan Yogyakarta:



  1. Shumai (Somay)

Jenis dimsum yang pertama adalah shumai atau somay yang terdiri dari pangsit dengan isian udang cincang yang dicampur dengan daging ayam. Di Indonesia kini jenis dimsum shumai dengan mudahnya dapat kita temukan di berbagai kedai dimsum atau street food. Jenis dimsum yang satu ini merupakan salah satu jenis dimsum yang paling laris di kedai dimsum Dimsumsewu.id Street food Klebengan Yogyakarta.

  1. Har gow (hakau)

Jenis dimsum yang kedua adalah har gow atau sering disebut di Indonesia dengan hakau. Hakau adalah pangsit kantong dengan memiliki ciri khas bungkusannya yang halus dan transparan dengan isian udang. Kini hakau yang dapat kita temukan tidak melulu berisi udang dan dapat berupa ayam atau sesuai kreasi pedagang dimsumnya. 

  1. Fung Zau (Ceker)

Fung zau atau ceker ayam merupakan salah satu jenis dimsum yang banyak ditemui dan popular di Indonesia, bahkan di street food dapat kita temui pedagang yang khusus menjual jenis dimsum yang satu ini. Teksturnya yang lembut dan bumbunya yang pekat dengan mudah memikat hati pengunjung street food. 


  1. Chun Juan (Lumpia)

Makanan dengan isian sayur, mie, daging atau jamur ini merupakan salah satu dari jenis dimsum yang sering kita temui di berbagai kedai kue maupun pasar. Dimsum jenis ini juga mirip dengan beberapa makanan khas yang ada di Indonesia, seperti lumpia semarang. 


  1. Wonton

Jika dilihat sekilas maka wonton terlihat mirip dengan makanan khas jepang yaitu ekado karena isinya dan bentuknya yang sama. Perbedaannya terletak pada jenis kulit yang digunakan, dimana wan ton dibungkus dengan adonan gandum yang empuk, sedangkan ekado dibungkus dengan kulit tahu dan diikat dengan daun maupun tali khusus makanan. 


  1. Tofu Skin Roll

Salah satu ciri khas dari jenis dimsum ini adalah dibungkus dengan kulit tahu bukan adonan tepung seperti lumpia. Dari segi isinya kedua makanan tersebut hampir sama, hanya saja tofu skin roll hanya diisi dengan daging bukan sayur atau jamur.


  1. Cha Siu Bao

Jenis dimsum selanjutnya adalah cha siu bao yang merupakan roti panggang isi babi namun di Indonesia karena mayoritas beragama islam, isian babi diganti dengan daging ayam, sapi atau isian lainnya. Kini cha siu bao dapat kita temukan di Indonesia di berbagai kedai dimsum dan restoran dengan isian yang kekinian sesuai dengan khas restoran atau kedai dimsum mereka. 


  1. Jiaozi

Jenis dimsum yang terakhir adalah jiaozi, adonan daging atau sayur yang digulung tipis dengan lipatan tepi terjepit. Jenis dimsum ini sekilas mirip dengan pastel, namun pastel dibungkus oleh adonan yang tebal dan mayoritas berisi sayuran. 

Itulah ragam dimsum yang dapat kita temui di Street food Klebengan Yogyakarta, namun selain dimsum kita juga dapat menemukan beragam korean dimsum  dan suki seperti sosis sapi, gyoza, crab stick, chikuwa, dumpling keju serta olahan daging lainnya yang pastinya Jogeaters harus Cobain karena rasanya yang lezat dan harganya yang ramah di kantong. 

Oleh: Laela Fitriyatul Khoiriyah


Yogyakarta - Hai Jogetaers, pemburu jajanan jangan sampai kelewatan nih dengan jajanan kekinian street food berbahan dasar aci. Aci merupakan adonan kenyal yang terbuat dari tepung, baik tepung sagu maupun tepung kanji atau tapioca. Jajanan berbahan dasar aci berasal dari bandung dan marak di berbagai street food di berbagai daerah. Jajanan kekinian berbahan dasar aci khas Bandung memiliki banyak ragam dan tak kalah enak dengan jajanan street food lainnya. Nah, kira-kira apa aja nih jajanan berbahan dasar aci yang wajib Jogeaters coba?

  1. Cilok (Aci dicolok)


Jajanan aci yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi Jogeaters. Adonan aci yang dibentuk bulat seperti bakso, direbus dan dikukus kemudian dikasih bumbu kacang, saus atau cabe bubuk sesuai selera Jogetaers. Cilok cukup mudah dan sederhana dalam pembuatannya, mulai dari tepung tapioka atau aci yang dicampur dengan air panas secukupnya, kemudian uleni sampai kalis. Selanjutnya adonan dibentuk bulat dan direbus. 

  1. Cilung (Aci digulung)

Cilung atau aci digulung merupakan jajanan berbahan dasar aci yang dikombinasikan dengan telur atau bihun. Adonan cilung sangat gampang dibuat, cukup campurkan aci dengan air dan bumbu penyedap atau kaldu. Kemudian aci digoreng tanpa minyak, kemudian ditambah telur atau bihun dan kemudian digulung. “Cilung hampir sama dengan telur gulung mba, kalo telur gulung Cuma telur dicampur air nah kalo cilung Cuma aci dan air kadang pas goreng ditambah telur ayam atau telur puyuh” (kata pedagang cilung). Penyajian cilung sama dengan telur gulung yaitu cukup disajikan dengan saus atau bumbu lain sesuai selera Jogeaters.

  1. Cilor (Aci Telor)


Cilor atau aci telor merupakan jajanan kekinian yang nggak kalah enak dengan jajanan aci lainnya. Berbahan dasar tepung tapioka yang berbentuk bulat atau dadu dan digoreng dengan baluran telur, pastinya perpaduan yang enak dan gurih. Selain enak dan gurih, cilor juga memiliki tekstur yang kenyal dan lebih nikmat jika disantap saat masih panas dengan aneka taburan bumbu instan atau saus sambal. 

  1. Cimol (Aci digemol)

Cimol atau aci digemol merupakan jajanan berbahan dasar aci yang berbentuk bulat mirip dengan cilok. Perbedaan antara cimol dan cilok hanya di proses pembuatannya, yang mana cilok direbus atau dikukus sedangkan cimol digoreng. Cara menikmati cimol juga hampir sama dengan cilok, yaitu bisa dinikmati dengan saus sambal atau bumbu kering, seperti bumbu tabur balado atau bubuk cabe. Selain ditaburi balado atau bubuk cabe, cimol juga khas dengan bumbu penyedap rasa atau micin. 

  1. Cireng 

Cireng atau aci digoreng juga merupakan jajanan aci kekinian yang nggak kalah enak dan banyak digandrungi oleh anak muda. Adonan aci yang dicampur dengan air panas, bumbu penyedap dan bisa ditambahkan dengan kucai atau daun bawang. Adonan aci kemudian diuleni dan dibentuk bulat lalu dipipihkan. Setelah itu aci digoreng dan disajikan dengan bumbu basah atau bumbu kering. Cireng juga dapat dibuat dengan atau tanpa isian sesuai selera dan Jogeaters dapat temukan kedua jenis cireng tersebut di berbagai street food. 

  1. Baso aci 

Jajanan aci yang satu ini tidak kalah enaknya dengan bakso yang terbuat dari tepung dan daging bakso. Selain enak, bakso aci juga terjangkau harganya dan cocok untuk Jogeaters yang ingin makan enak tapi tetap hemat. Bakso aci terbuat dari adonan aci yang dicampur dengan air dan ditambahkan dengan bumbu seperti, kaldu ayam atau sapi, garam, lada, penyedap rasa, bawang merah dan putih. Penyajian bakso aci biasa disandingkan dengan pilus atau cuanki, bubuk cabe atau saus dan perasan jeruk limau agar lebih nikmat. 


Oleh Nur Afriliani Meliana

Yogyakarta - Bakpia dan gudeg rasanya sudah menjadi kuliner yang wajib dicoba jika berkunjung ke Yogyakarta. Padahal, kota ini masih memiliki puluhan kuliner lainnya yang juga sebaiknya perlu dieksplorasi. Selain bakpia, jogeaters bisa mencoba geplak. Geplak dikenal sebagai salah satu cemilan khas Yogyakarta, tepatnya berasal dari daerah bantul. Akan tetapi bukan hanya Yogyakarta saja yang ternyata memiliki geplak, Betawi juga punya geplak sendiri, yang membedakan adalah geplak betawi hanya berasal dari gula tebu saja dan warnanya hanya putih keabu-abuan. Biasanya banyak muncul pada saat ada acara pernikahan. 

Kalau geplak Yogyakarta terbuat dari parutan kelapa dan gula merah atau gula pasir. Bentuknya yang unik dan rasanya yang khas membuat makanan ini sangat digemari oleh masyarakat, khususnya wisatawan. Geplak ini memiliki ciri khas dengan bentuknya yang bulat dan warna-warni. Selain itu rasa parutan kelapa dan rasanya yang manis memberikan cita rasa khas pada makanan satu ini. Dalam proses pembuatannya, pertama daging kelapa direndam ke dalam air kelapa sampai minyaknya hilang. Kemudian daging kelapa tersebut dicuci bersih dan diparut. Parutan tersebut kemudian dimasak bersama dengan gula dan juga pewarna makanan. Kemudian didinginkan dan dibentuk bulat dan di kemas. Jogeaters udah pernah cobain belum? 

Makanan khas kota Bantul ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada saat itu lahan di daerah Bantul lebih banyak ditanami Tebu. Ada sekitar 6 Pabrik gula yang ada di Bantul saat itu, tapi hingga kini hanya satu saja yang masih beroperasi yaitu pabrik gula Madukismo yang pada awal Republik Indonesia ini berdiri menjadi sebuah pabrik gula terbesar di Asia Tenggara. Pada zaman dahulu masyarakat menjadikan geplak sebagai makanan utama pengganti beras. Hal tersebut karena karena banyaknya bahan pembuat geplak yaitu daging kelapa serta berlimpahnya lahan tebu yang diolah untuk menjadi gula.

Secara geografis, Bantul berada di dataran rendah, sehingga daerah ini sangat cocok untuk tanaman kelapa. Karena melimpahnya bahan baku kelapa dan tebu, maka terciptalah geplak yang kini dikenal sebagai makanan khas Bantul.

Produk Geplak

“Geplak itu makanan khas daerah Bantul. Saya nggak tahu kalau di tempat lain, tapi kalau di sini cuma terbuat dari parutan kelapa sama gula” tutur penjual geplak.

Ia menjelaskan bahwa geplak khas Bantul itu hanya berbahan dasar dari kelapa dan gula, bukan dari bahan lain. 

Saat ini berbagai varian geplak jogja sudah banyak bermunculan. Pada awalnya, geplak hanya memiliki dua warna, yaitu berwarna putih jika menggunakan bahan dasar gula pasir dan berwarna coklat jika menggunakan bahan dasar gula jawa. Namun sekarang varian warnanya sudah bermacam-macam seperti, merah, kuning, coklat, hijau, dan putih. Pewarna makanan ini ditambahkan dengan tujuan agar tampilannya terlihat lebih cantik dan menarik.

Oleh karena itu jogeaters wajib banget cobain jajanan khas Bantul ini saat berlibur ke Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, geplak khas Bantul ini memiliki bentuk yang unik dan cita rasa yang khas. Selain itu, jajanan geplak ini ringan dan awet loh jogeaters, jadi sangat cocok dijadikan oleh-oleh. Untuk masalah harga jogeaters tak perlu khawatir, karena cemilan yang satu ini dipasarkan dengan harga yang sangat terjangkau, Sebungkus geplak dengan berat 550 gram hanya dijual sekitar Rp 25.000-Rp 30.000. Rugi banget kan kalau jogeaters sampai nggak nyobain.


Oleh: Ade Yaning Crislyn Saraswati

Yogyakarta – Datang ke Jogja, Jogeaters bisa menemukan ada puluhan toko oleh-oleh khas Jogja yang berjejeran di sepanjang jalan. Dan di setiap toko oleh-oleh, bakpia kerap kali menjadi produk unggulan. Bakpia dinobatkan sebagai pilihan pertama untuk dijadikan buah tangan oleh para wisatawan. Kalau Jogeaters mau membeli bakpia di kota Wisata ini, kalian punya puluhan opsi merek bakpia yang tersedia di Jogja dengan ciri khas rasa yang berbeda-beda. Tapi, Jogeat mau kasih tau Jogeaters nih tentang produk bakpia yang must try banget untuk kalian, yaitu Bakpia 5555 Mbak Fikki. 

Bakpia 5555 Mbak Fikki menyediakan dua jenis bakpia yaitu bakpia basah dan bakpia kering. Memangnya, apa sih bedanya? Kalau bakpia basah, teksturnya cenderung lebih lembab. Nah karena lebih lembab, kulit bakpia jadi lebih mudah berjamur, membuat masa penyimpanannya hanya sampai kurang lebih lima hari. Sedangkan bakpia kering teksturnya lebih crispy karena proses pemanggangan lebih lama dari yang basah. Masa penyimpanannya pun menjadi lebih lama yaitu sekitar sepuluh hari. Bakpia 5555 ini menawarkan produk bakpia dengan beberapa varian rasa isian. Yang pertama pastinya ada rasa original bakpia yaitu kacang hijau. Terus ada juga rasa keju, ketela ungu, dan ketela madu. Kalian bisa cobain setiap rasa kesukaan kalian per kotaknya. Atau mungkin Jogeaters ingin kombinasi keempat rasanya sekaligus? Tenang, kalian juga bisa loh request untuk mencampurkan varian rasa bakpia nya dalam satu kotak.

Beberapa orang lebih suka untuk membeli bakpia di Bakpia 5555 Mbak Fikki ini karena rasa dari isian bakpianya khas seperti bakpia tradisional dari jaman dulu. Rasanya tetap cocok di lidah konsumen meskipun sekarang sudah banyak berkembang inovasi-inovasi terbaru pada produk bakpia. “Ini yang saya cari itu yang rasanya seperti ini. Sekarang kan banyak bakpia yang rasanya aneh-aneh, saya kurang suka. Kalo ini tuh ga bikin eneg, pas banget rasanya”, kata Ibu Sri, salah seorang pembeli Bakpia 5555 Mbak Fikki. Rasanya yang enak ini pas banget buat dicobain langsung, karena Bakpia 5555 Mbak Fikki ini “Fresh from Oven”, begitu keluar dari oven, bakpia di angin-anginkan sebentar di atas tambir, baru dibungkus ke dalam kotak atau kardus bakpia dalam keadaan yang benar-benar masih hangat. Bakpia jadi terasa fresh dan lebih nikmat saat memakannya dalam kondisi yang masih hangat. 

Ada satu lagi nih yang menarik dari Bakpia 5555 Mbak Fikki, yaitu soal harganya. Yap! Harga bakpia disini sangat terjangkau, yaitu untuk untuk bakpia isi 10 dibandrol dengan harga Rp. 10.000 per kotak, isi 20 harganya Rp. 20.000 per kotak. Di Bakpia 5555 Mbak Fikki juga menyediakan kardus package yang muat untuk membawa 20 kotak bakpia isi 10 atau untuk 10 kotak bakpia isi 20 dengan menambah biaya sebesar Rp. 5.000. Harganya yang murah bisa membantu Jogeaters untuk menghemat pengeluaran nih. Selain untuk oleh-oleh, bakpia ini juga cocok untuk bingkisan, atau suguhan tamu di rumah, bisa juga untuk cemilan. Toko oleh-oleh ini tidak hanya menjual bakpia saja, disini juga tersedia aneka makanan seperti wingko, yangko, dan geplak.

Gimana, Bakpia 5555 Mbak Fikri bisa dimasukkan ke dalam list oleh-olehnya Jogeaters kan? Kalau berkunjung ke Jogja, jangan lupa untuk mampir cari oleh-oleh di Bakpia 5555 Mbak Fikki ini. Toko oleh-oleh ini berpusat di daerah Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Kalian juga bisa mengunjungi cabangnya yaitu Bakpia 5555 Gendeng di Ruko Pasar Gendeng daerah Piyungan atau di Bakpia 5555 Klewonan, Jl. Cangkringan, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Selamat mencoba bakpianya, Jogeaters!


Oleh: Wardah Akmaliah Rahmat

Yogyakarta- Selain wisata, tak cukup rasanya jika tak berkuliner di Jogja. Salah satu tempat yang merupakan surga kuliner dan menjadi incaran oleh para pengunjung dan wisatawan ialah Malioboro. Nah, ada salah satu jajanan jalanan yang sangat viral dan sering ramai oleh pengunjung, yakni Lumpia Samijaya. 

Konon, Lumpia adalah salah satu kuliner asli dari Semarang, Jawa Tengah. Akan tetapi, hampir di seluruh Kota-kota besar di Indonesia Lumpia dapat dijumpai. Sebagai kota yang sangat ramai oleh pengunjung, kota Jogja juga terdapat cemilan khas dari Semarang itu. Salah satu yang paling terkenal dan legendaris ialah Lumpia Samijaya atau juga bisa disebut dengan Lumpia Mutiara. Kenapa toko tersebut memiliki dua nama? Ternyata ada asal-usul dibalik 2 nama itu lho.

Lumpia ini sudah berdiri sejak tahun 1976. Lumpia ini dapat ditemukan di Jl. Malioboro No.18, Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melansir dari berbagai sumber, nama yang aslinya ialah Lumpia Samijaya, hanya saja masyarakat lebih familiar dan akrab dengan sebutan Lumpia Mutiara. Hanya karena tempat berjualannya terletak persis di depan Hotel Mutiara Malioboro. Maka dari itu, Lumpia Samijaya menjadi salah satu rekomendasi street food di Jogja khususnya di kawasan sekitar malioboro. Namun, untuk saat ini lokasi Lumpia Samijaya sudah dipindahkan ke dalam Teras Malioboro 2 Blok K 20/21, karena adanya peraturan pemerintah daerah setempat mengenai relokasi para pedagang kaki lima (PKL) Malioboro. 


Tapi sebenarnya, tidak peduli namanya Lumpia Samijaya ataupun Lumpia Mutiara, yang terpenting ialah soal rasa yang tidak ada duanya. Hal tersebut dibuktikan dengan keramaian pengunjung, yang bahkan rela mengantri demi bisa mencicipi Lumpia yang sudah viral di masyarakat ini. Tidak perlu khawatir soal harga, dengan memiliki ciri khas tersendiri, Lumpia Samijaya membandrol harga yang berkisar mulai dari 5-6 ribuan saja, tapi berhasil memikat banyak hati pelanggan karena soal rasa yang tidak perlu ditanyakan lagi. Lumpia Samijaya menyediakan berbagai pilihan rasa, ada ayam dan spesial telur ditambah lagi dengan sayuran seperti tauge, bengkoang, dan wortel. Belum lagi ditambah dengan cabe rawit dan saus bawang putih yang menjadikan ciri khasnya tersendiri. Sehingga menimbulkan rasa gurih dan segar. Dengan harga yang terjangkau itu, tidak cukup rasanya jika hanya membeli satu buah saja. 

Namun, karena adanya peraturan daerah yang mengatur tentang Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro, Lumpia Samijaya juga turut dipindahkan dan ditempatkan ke Teras Malioboro 2. Hal tersebut juga tidak berpengaruh pada ramainya pengunjung dan pelanggan tetap Lumpia Samijaya ini. Mau dimanapun tempatnya, Lumpia Samijaya ini tetap menjadi incaran dan akan selalu ramai oleh pengunjung. Tidak peduli namanya Lumpia Samijaya ataupun Lumpia Mutiara, lapak ini tetap ramai oleh pengunjung. Lumpia Samijaya ini buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB. Direkomendasikan bagi kalian pecinta kuliner, terlebih yang asin-asin bisa langsung berkunjung ke Teras Malioboro 2 lalu cari lapak Lumpia Samijaya. Sesampainya disana, kalian akan disajikan dengan Lumpia yang panas ditambah dengan saus bawang putih, cabai rawit, dan tambahan acar. Duh dijamin nagih deh, so yuk langsung gas sekarang juga!!! Yuk tunggu apalagi, jangan sampai berkunjung ke Jogja tapi tidak pernah mencicipi Lumpia Samijaya ini.

Newer Posts Older Posts Home

ABOUT US

Gudangnya serba serbi makanan dan minuman istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta

POPULAR POSTS

  • 28 Coffee Tamsis, Coffee Shop Yogyakarta; Rekomendasi Tepat Untuk Nongkrong Dan Belajar
  • Lumpia Samijaya atau Lumpia Mutiara, Manakah yang Benar?
  • Walang Goreng Handayani, Khas Gunung Kidul yang Unik, Renyah dan Halal
  • Geplak, Makanan Super Manis Khas Bantul Yogyakarta
  • Couvee, Bisnis Coffee Shop yang Menjamur di Yogyakarta

Categories

  • Bisnis 5
  • Food 8
  • Rekomendasi 18
  • Tips 5
  • Unik 11
  • Viral/Tren 10
Powered by Blogger

Post Archive

  • 2022 52
    • June 2022 42
    • April 2022 10

About Us

Jogeat (Jogja Eating-Eating)
View my complete profile

Copyright © JOGEAT. Designed by OddThemes